TERLAMBAT
Titisan Tinta
Hitam
CAHAYANYA mengusik
tidurku, perlahan mengganggu kelopak mata yang masih menolak untuk dibuka.
Lewat jendela, ia mengintipku melalui sela-sela gorden yang menggantung. Kulihat
dari jendela kamar yang berukuran kecil, cahayanya terlihat terang. Namun, bagiku
itu hanyalah pengganggu bunga tidurku. Aku dikagetkan, ketika melihat cahaya
abadi yang perlahan merayap di ufuk timur. Kulihat jam tangan yang ada di atas
meja belajarku itu, arah jarum jamnya mengarah pada pukul 07.00 pagi.
 |
| Menulis Cerpen |
“Astaga! hari ini kan hari Senin” sambil
mengusap mataku yang masih sangat mengantuk. Aku lupa ternyata hari ini bukan
hari libur. Aku langsung minggat dari
tempat tidur lalu siap-siap berangkat ke sekolah. Aku mandi secukupnya saja,
makan pun tidak. Kucari seragam putih abu-abu di dalam lemari sambil menengok
ke arah jam tangan itu, arah jarum jamnya mengarah pada pukul 07.30. Kutarik
tas lalu aku memasukan beberapa buku ke dalamnya, ada buku bahasa Indonesia,
buku sejarah, dan satu lagi aku tidak tahu itu buku apa.
“kunci motorku mana? kunci motorku mana?.”
teriaku kepada ibu.
“Itu di atas kulkas” jawab ibu sambil
menggelengkan kepala.
“besok nonton tv lagi yah sampai larut
malam” ucap ibu kepadaku.
Ternyata tadi malam aku tidur pukul
01.00 karena keasyikan nonton tv yang kebetulan acara favoritku. Kuambil kunci
motor yang ada di atas kulkas berwarna abu-abu, lalu kunaiki motor yang bermerk
Mio J warna putih hitam. Sesekali aku menengok jam tanganku, ternyata waktu terus berputar dalam
dimensi kehidupan manusia.
“Pasti aku kena hukum lagi dari kepala
sekolah” sahutku dalam hati. Aku menancap gas pada motorku yang bermerk Mio J
itu sambil melewati bukit yang cukup curam.
MMBBUUUMM…. MMBBUUUMM…. “Aris…” aku menoleh dan kulihat sosok
laki-laki berpakaian putih abu-abu sambil membawa tas ransel yang ada di
pundaknya. Rambutnya sedikit pirang, badannya agak besar dari aku. Ketika dia
berjalan mendekat, wajah itu tiba-tiba merasa hatiku tenang, dia adalah Ardi
teman sekelas aku. Kusuruh dia naik di motor lalu kutancap gasnya.
Upacara telah selesai semua siswa
membubarkan diri kecuali aku dan Ardi. Semua siswa menertawai aku dan Ardi. Hanya
kami berdua yang diberi hukuman oleh kepala sekolah. Aku dan Ardi berdiri tegak
sambil mengangkat tangan dan dihadapkan ke secarik kain yang berwarna merah dan
putih yang menggantung di atas tiang itu, kain merah dan putih itu mengibarkan
dirinya dengan perkasa dan penuh percaya diri di atas tiang tersebut,
seakan-akan kain itu meledek aku dan Ardi. Namun tidak apa-apa, karena ini
memang salah kami berdua yang tidak tertib pada aturan.
Kurang lebih 15 menit aku dan Ardi
berdiri di hadapan tiang itu, cukup membosankan dan melelahkan bagiku. Kami
terus mendapat omelan dari kepala sekolah, serasa kepalaku ini ingin pecah
mendengarnya. Keringat terus-terusan mengguyur seluruh tubuhku. Tiba-tiba saja
datang seorang perempuan berjilbab putih senyumnya simpul, wajahnya cantik dan
anggun. Perempuan itu memberi tawaran air minum kepadaku. Aku tidak banyak
berkata apa-apa hanya mengucapkan terimah kasih kepadanya. Dia tidak seperti
dengan teman-teman yang lain, bagiku dia sangatlah istimewa dibandingkan teman
perempuan lainnya. Perempuan berjilbab itu teman sekelas aku yang bernama
Aleena. Aleena orang yang baik dan selalu memberikan perhatian kepada temannya,
termasuk aku.
Pagi ini tiba-tiba saja aku berpapasan
dengan Aleena, dia hanya tersenyum simpul kepadaku. Entah kenapa setiap aku
bertemu dengan Aleena seakan hatiku merasa bahagia dan tenteram. Aleena ibarat
pelangi yang selalu dirindukan oleh semua orang dikala rinai berpamitan kepada
bumi.
Suatu hari Aleena tidak masuk sekolah,
entah kenapa baru kali ini ia tidak masuk. Dari jauh aku melihat Tantri teman
Aleena, ia berdiri di depan kelas bersama dengan teman-teman yang lain. Aku menghampirinya
dan menanyakan Aleena kepada Tantri.
“Aleena hari ini tidak masuk Tan?”
tanyaku kepada Tantri.
“cieeee ada yang nyariin Aleena tuh,”
ejek teman-teman yang lain kepadaku, aku hanya tersipu malu karena menanyakan
Aleena.
“Iya, aku juga kurang tahu, kenapa
Aleena tidak masuk sekolah hari ini.” ucap Tantri kepadaku.
Entah kenapa hari ini Aku tidak semangat
belajar, pikiranku terus bertakhta hanya kepada nama Aleena. Pelajaran hari ini
terasa membosankan tidak seperti dengan hari-hari sebelumnya. Ada apa dengan
diriku ini? Atau jangan-jangan aku jatuh hati dengan Aleena, tidak! “Aleena itu
teman kamu Aris” batinku terus menolak tentang perasaanku kepada Aleena.
Siang berganti malam, malam berganti
hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah dua bulan aku terus
menyimpan perasaan ini pada tempat yang kokoh yaitu hati, aku tidak berani juga
mengatakannya kepada Aleena. Padahal Tantri teman Aleena sendiri yang
mengatakan kalau Aleena juga punya perasaan kepadaku.
Hari ini juga aku akan melawan rasa
takut itu yang selalu mengganggu saraf beban dalam diriku. Apapun keputusan
yang diberikan Aleena akan aku tanggung sendiri.
Disebuah sudut ruang kelas, Aleena duduk
sendirian sambil dipandangnya titisan air hujan yang mengguyur teras sekolah.
Perlahan aku menghampirinya.
“ada apa dengan air hujan itu?” tanyaku
yang mulai mengganggu kesunyian.
Aleena hanya tersenyum simpul dan
pandangannya tak berpaling sedikitpun dari titisan air hujan itu.
“ada banyak orang yang mengatakan bahwa
hujan itu indah. Tetapi disaat hujan, orang itu takut basah juga” jawabnya
Aleena kepadaku.
Aku bukan orang yang ahli dalam ilmu
linguistik. Tetapi aku bisa membaca bahwa ucapan itu adalah sindiran yang
diperuntukan kepadaku, yang selalu takut medapat resiko ketika bertindak.
Termasuk dalam menyampaikan perasaanku kepada Aleena. Akupun memberanikan diri
menyampaikan perasaanku kepada Aleena dan apapun keputusannya aku pasti
menerimanya.
“lalu bagaimana jika orang itu
memberanikan diri untuk membasahi tubuhnya dengan air hujan, apakah hujan akan
menerima cintanya dan menjadikannya sebagai pasangan hidupnya?” tanyaku yang
butuh penjelasan.
“Terlambat, orang itu terlambat Aris. Kemarin
hujan baru saja memilih pasangannya dan kini hujan sudah bahagia dengannya”
jawab Aleena kepadaku dan kulihat matanya berkaca-kaca.
Sudah kukatakan
apapun keputusan Aleena akan aku terima dengan ikhlas. Aku sudah salah menaruh
hati kepada Aleena.
Maros,
01 Desember 2019