Minggu, 02 Februari 2020

Cerita Pendek "Terlambat" Karya Titisan Tinta Hitam


TERLAMBAT
Titisan Tinta Hitam
CAHAYANYA mengusik tidurku, perlahan mengganggu kelopak mata yang masih menolak untuk dibuka. Lewat jendela, ia mengintipku melalui sela-sela gorden yang menggantung. Kulihat dari jendela kamar yang berukuran kecil, cahayanya terlihat terang. Namun, bagiku itu hanyalah pengganggu bunga tidurku. Aku dikagetkan, ketika melihat cahaya abadi yang perlahan merayap di ufuk timur. Kulihat jam tangan yang ada di atas meja belajarku itu, arah jarum jamnya mengarah pada pukul 07.00 pagi.

Cerpen "Terlambat" Karya Titisan Tinta Hitam
Menulis Cerpen
“Astaga! hari ini kan hari Senin” sambil mengusap mataku yang masih sangat mengantuk. Aku lupa ternyata hari ini bukan hari libur.  Aku langsung minggat dari tempat tidur lalu siap-siap berangkat ke sekolah. Aku mandi secukupnya saja, makan pun tidak. Kucari seragam putih abu-abu di dalam lemari sambil menengok ke arah jam tangan itu, arah jarum jamnya mengarah pada pukul 07.30. Kutarik tas lalu aku memasukan beberapa buku ke dalamnya, ada buku bahasa Indonesia, buku sejarah, dan satu lagi aku tidak tahu itu buku apa.
“kunci motorku mana? kunci motorku mana?.” teriaku kepada ibu.
“Itu di atas kulkas” jawab ibu sambil menggelengkan kepala.
“besok nonton tv lagi yah sampai larut malam” ucap ibu kepadaku.
Ternyata tadi malam aku tidur pukul 01.00 karena keasyikan nonton tv yang kebetulan acara favoritku. Kuambil kunci motor yang ada di atas kulkas berwarna abu-abu, lalu kunaiki motor yang bermerk Mio J warna putih hitam. Sesekali aku menengok jam tanganku, ternyata waktu terus berputar dalam dimensi kehidupan manusia.
“Pasti aku kena hukum lagi dari kepala sekolah” sahutku dalam hati. Aku menancap gas pada motorku yang bermerk Mio J itu sambil melewati bukit yang cukup curam.
MMBBUUUMM…. MMBBUUUMM…. “Aris…” aku menoleh dan kulihat sosok laki-laki berpakaian putih abu-abu sambil membawa tas ransel yang ada di pundaknya. Rambutnya sedikit pirang, badannya agak besar dari aku. Ketika dia berjalan mendekat, wajah itu tiba-tiba merasa hatiku tenang, dia adalah Ardi teman sekelas aku. Kusuruh dia naik di motor lalu kutancap gasnya.
            Upacara telah selesai semua siswa membubarkan diri kecuali aku dan Ardi. Semua siswa menertawai aku dan Ardi. Hanya kami berdua yang diberi hukuman oleh kepala sekolah. Aku dan Ardi berdiri tegak sambil mengangkat tangan dan dihadapkan ke secarik kain yang berwarna merah dan putih yang menggantung di atas tiang itu, kain merah dan putih itu mengibarkan dirinya dengan perkasa dan penuh percaya diri di atas tiang tersebut, seakan-akan kain itu meledek aku dan Ardi. Namun tidak apa-apa, karena ini memang salah kami berdua yang tidak tertib pada aturan.
Kurang lebih 15 menit aku dan Ardi berdiri di hadapan tiang itu, cukup membosankan dan melelahkan bagiku. Kami terus mendapat omelan dari kepala sekolah, serasa kepalaku ini ingin pecah mendengarnya. Keringat terus-terusan mengguyur seluruh tubuhku. Tiba-tiba saja datang seorang perempuan berjilbab putih senyumnya simpul, wajahnya cantik dan anggun. Perempuan itu memberi tawaran air minum kepadaku. Aku tidak banyak berkata apa-apa hanya mengucapkan terimah kasih kepadanya. Dia tidak seperti dengan teman-teman yang lain, bagiku dia sangatlah istimewa dibandingkan teman perempuan lainnya. Perempuan berjilbab itu teman sekelas aku yang bernama Aleena. Aleena orang yang baik dan selalu memberikan perhatian kepada temannya, termasuk aku.
Pagi ini tiba-tiba saja aku berpapasan dengan Aleena, dia hanya tersenyum simpul kepadaku. Entah kenapa setiap aku bertemu dengan Aleena seakan hatiku merasa bahagia dan tenteram. Aleena ibarat pelangi yang selalu dirindukan oleh semua orang dikala rinai berpamitan kepada bumi.
Suatu hari Aleena tidak masuk sekolah, entah kenapa baru kali ini ia tidak masuk. Dari jauh aku melihat Tantri teman Aleena, ia berdiri di depan kelas bersama dengan teman-teman yang lain. Aku menghampirinya dan menanyakan Aleena kepada Tantri.
“Aleena hari ini tidak masuk Tan?” tanyaku kepada Tantri.
“cieeee ada yang nyariin Aleena tuh,” ejek teman-teman yang lain kepadaku, aku hanya tersipu malu karena menanyakan Aleena.
“Iya, aku juga kurang tahu, kenapa Aleena tidak masuk sekolah hari ini.” ucap Tantri kepadaku.
Entah kenapa hari ini Aku tidak semangat belajar, pikiranku terus bertakhta hanya kepada nama Aleena. Pelajaran hari ini terasa membosankan tidak seperti dengan hari-hari sebelumnya. Ada apa dengan diriku ini? Atau jangan-jangan aku jatuh hati dengan Aleena, tidak! “Aleena itu teman kamu Aris” batinku terus menolak tentang perasaanku kepada Aleena.
Siang berganti malam, malam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah dua bulan aku terus menyimpan perasaan ini pada tempat yang kokoh yaitu hati, aku tidak berani juga mengatakannya kepada Aleena. Padahal Tantri teman Aleena sendiri yang mengatakan kalau Aleena juga punya perasaan kepadaku.
Hari ini juga aku akan melawan rasa takut itu yang selalu mengganggu saraf beban dalam diriku. Apapun keputusan yang diberikan Aleena akan aku tanggung sendiri.
Disebuah sudut ruang kelas, Aleena duduk sendirian sambil dipandangnya titisan air hujan yang mengguyur teras sekolah. Perlahan aku menghampirinya.
“ada apa dengan air hujan itu?” tanyaku yang mulai mengganggu kesunyian.
Aleena hanya tersenyum simpul dan pandangannya tak berpaling sedikitpun dari titisan air hujan itu.
“ada banyak orang yang mengatakan bahwa hujan itu indah. Tetapi disaat hujan, orang itu takut basah juga” jawabnya Aleena kepadaku.
Aku bukan orang yang ahli dalam ilmu linguistik. Tetapi aku bisa membaca bahwa ucapan itu adalah sindiran yang diperuntukan kepadaku, yang selalu takut medapat resiko ketika bertindak. Termasuk dalam menyampaikan perasaanku kepada Aleena. Akupun memberanikan diri menyampaikan perasaanku kepada Aleena dan apapun keputusannya aku pasti menerimanya.
“lalu bagaimana jika orang itu memberanikan diri untuk membasahi tubuhnya dengan air hujan, apakah hujan akan menerima cintanya dan menjadikannya sebagai pasangan hidupnya?” tanyaku yang butuh penjelasan.
“Terlambat, orang itu terlambat Aris. Kemarin hujan baru saja memilih pasangannya dan kini hujan sudah bahagia dengannya” jawab Aleena kepadaku dan kulihat matanya berkaca-kaca.
Sudah kukatakan apapun keputusan Aleena akan aku terima dengan ikhlas. Aku sudah salah menaruh hati kepada Aleena.
Maros, 01 Desember 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar